Nasib Tujuh Miliar Manusia

Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni, pada tahun ini mengusung tema “Seven Billions Dreams. One Planet. Consume with Care”. Secara harfiah, tema ini diterjemahkan sebagai ‘7 miliar manusia, di dalam satu planet, dan aksi kepedulian agar manusia yang konsumtif ini lebih bijak mengelola lingkungan secara berkelanjutan’.

Namun, tema ini bukanlah topik favorit. Publik cenderung diarahkan kepada tema-tema arus utama yang sangat variatif di tingkat lokal, nasional, regional, maupun global. Padahal, tema ini selayaknya menyadarkan kita melihat ancaman sesungguhnya di depan mata.

Manusia yang ditakdirkan Tuhan sebagai spesies paling superior di muka bumi, terus mendominasi planet ini dengan jumlah 7 miliar jiwa. Terjadi peningkatan 1 miliar dalam 12 tahun terakhir.

Dengan pola konsumsi manusia yang cenderung tak terbatas, sementara daya dukung lingkungan sangat terbatas, mengakibatkan kualitas hidup manusia semakin berkurang. Sudharto P Hadi dalam bukunya, Manusia dan Lingkungan (Undip, 2009), menjabarkan, manusia memiliki kelebihan psikologis dan analogis yang memungkinkannya mempunyai dimensi ganda dalam lingkungan, yakni sebagai perusak dan pemelihara.

Persoalan lingkungan akibat ulah manusia pun semakin terasa dampaknya kini. Pemanasan global akibat peningkatan gas rumah kaca, deforestasi, serta produksi limbah manusia di darat, laut, dan atmosfer, antara lain, disebabkan karena pengelolaan sumber daya alam yang mengabaikan aspek lingkungan. Belum lagi soal keanekaragaman hayati yang semakin terkikis karena rusaknya ekosistem di alam. Padahal, fakta lain menyebutkan, dibutuhkan tambahan setengah luas bumi untuk memenuhi mimpi 7 miliar penduduknya.

Ancaman Carson dalam bukunya, Silent Spring, 53 tahun lalu, bahwa dunia sudah tercemar akibat pembangunan yang abai lingkungan, telah memulai lahirnya gerakan prolingkungan. Antara lain digelarnya Konferensi PBB pada 1972 di Stockholm, Swedia, mengenai ‘Lingkungan Manusia’ yang melahirkan United Nations Environment Program (UNEP).

Berlanjut tahun 1982 dengan dibentuknya World Commission on Environtment and Development (WCED). Dan bertepatan dengan Sidang Umum PBB, WCED mengeluarkan dokumen Our Common Future atau yang juga dikenal dengan Brundtland Report yang mengusulkan konsep Pembangunan Berkelanjutan, konsep pembangunan yang memerhatikan triple bottom line.

Dalam konsep ini, pembangunan tidak hanya memerhatikan aspek ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan secara bersamaan, menaikkan pendapatan sekaligus memberantas kemiskinan dan melestarikan sumber daya alam sebagai penopang pembangunan.

Gerakan prolingkungan terus berlangsung hingga 20 tahun pascakonferensi di Stockholm dengan diselenggarakannya United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) atau KTT Bumi di Rio de Janeiro, Brasil. Lahir Agenda 21 yang dianggap lebih holistik dan komprehensif karena melahirkan dua konvensi, yakni biodiversity dan climate change yang juga mendapat dukungan Inter Governmental Panel on Climate Change (IPCC).

Masifnya isu lingkungan pada dekade sebelumnya seolah hilang lantaran robohnya menara kembar (WTC) di New York, 11 September 2001. Isu global pun beralih menjadi perang melawan terorisme. Negara-negara adidaya sibuk mengalokasikan anggarannya pada perlawanan terhadap terorisme dalam jumlah fantastis. Jauh melebihi besaran green budgeting sebagai perangkat bagi penganggaran publik yang lebih prolingkungan hidup.

Pascarobohnya WTC memang masih ada pertemuan tingkat tinggi membahas pembangunan berkelanjutan, seperti di Johannesburg, Afrika Selatan, pada 2002, kemudian Rio + 20 dengan dokumen “The Future We Want”-nya. Namun, semua ini ‘tenggelam’ oleh isu perang melawan terorisme. Dunia tak lagi mengukur dampak pemanasan akibat mitraliur, bom, bahkan senjata kimia yang tidak hanya membunuh manusia, tetapi juga membinasakan seluruh makhluk, termasuk jasad renik pengurai sampah.

Emil Salim dalam pengantar buku Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global karya A Sonny Keraf mengutip satu pernyataan arogan Amerika Serikat melawan terorisme: who are not with us, are against us. Hegemoni ini seolah memaksa seluruh dunia hanya pada dua pilihan: menjadi antiteroris atau proteroris.

Polarisasi tersebut nyaris melupakan nasib bumi dan lingkungan alamnya sebagai penjamin kelangsungan masa depan hidup bagi 7 miliar manusia di muka bumi ini.

Abdullah Fikri Faqih
Anggota DPR, Ketua Bidang Kesejahteraan dan Pengabdian Masyarakat Ikatan Pengkaji Lingkungan Hidup Indonesia (Inkalindo)

 

dimuat di Republika 5 Juni 2015

 

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email
adminfikri

adminfikri

Anggota DPR RI Dapil Jawa Tengah IX (Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes)

Leave a Replay