Organisasi Guru Diminta Usulkan Grand Design Pendidikan

Sejumlah siswa mengembalikan buku-buku kurikulum 2013 kepada pihak sekolah di Sekolah Menegah Pertama Negeri 56, Jakarta Selatan, Senin (15/12). Pihak sekolah akhirnya memberlakukan kurikulum 2013 secara terbatas sesuai himbauan Permendikbud yang mengatur kebijakan penghentian implementasi Kurikulum 2013 dan pengembalian penerapan pendidikan kurikulum 2006 (kurikulum tingkat satuan pendidikan/ KTSP). Republika/Rakhmawaty La'lang
Sejumlah siswa mengembalikan buku-buku kurikulum 2013 kepada pihak sekolah di Sekolah Menegah Pertama Negeri 56, Jakarta Selatan, Senin (15/12). Pihak sekolah akhirnya memberlakukan kurikulum 2013 secara terbatas sesuai himbauan Permendikbud yang mengatur kebijakan penghentian implementasi Kurikulum 2013 dan pengembalian penerapan pendidikan kurikulum 2006 (kurikulum tingkat satuan pendidikan/ KTSP).
Republika/Rakhmawaty La’lang

REPUBLIKA.CO.ID, TEGAL –Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fikri Faqih, mengajak organisasi guru untuk berdialog kepada pemerintah dalam mengusulkan pengelolaan secara umum (grand design) tentang pendidikan nasional. Sebab, Fikri menilai saat ini pemerintah seperti mengalami kesulitan dalam merumuskan model yang tepat bagi pendidikan di tanah air.

Hal itu, kata dia, dibuktikan dengan tidak konsistennya kurikulum yang silih berganti sesuai dengan pergantian menteri. Hal tersebut menandakan pemerintah Indonesia belum memiliki konsep pendidikan yang berkelanjutan.

”Kami mengajak teman-teman guru yang tergabung dalam organisasi apapun, PGRI atau PGSI atau yang lainnya, ikut bantu kami untuk merancang konsep pendidikan berkelanjutan, Grand Design. Jadi nanti bisa kita sampaikan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” kata Fikri, dalam keterangan persnya, Rabu (9/11).

Menurut Fikri, peran praktisi pendidikan dalam hal ini adalah guru, sangat penting untuk dirumuskan dan disampaikan kepada pemerintah. Sehingga grand design pendidikan tidak hanya sebatas wacana yang tercatat di dalam kurikulum, tetapi bisa diterapkan oleh penyelenggara pendidikan dan guru.

Lebih lanjut ia menjelaskan, konsep pendidikan Indonesia  seharusnya disesuaikan dengan tujuan negara. Sehingga, pendidikan tidak hanya menjadi sebuah solusi untuk mengembangkan kesejahteraan, tetapi juga membantu untuk menanamkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

”Gunanya guru-guru menyampaikan rumusan pendidikan adalah untuk nantinya konsep pendidikan itu bisa diterapkan. Tidak sebatas administratif, tapi benar-benar dengan hati,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama Ketua PGSI Jawa Tengah Muhammad Zen menyampaikan, yang merasakan dan menjalankan konsep pendidikan adalah Guru. Oleh karena itu, PGSI siap untuk membantu pemerintah untuk membuat grand design bersama dengan elemen lainnya.

”Yang kita takutkan saat ini, guru sudah tidak fokus dengan bagaimana muridnya, karena disibukkan dengan administratif. Kita mengkhawatirkan konsep pendidikan ini tidak ditangani oleh orang-orang yang memang fokus dalam dunia pendidikan. Padahal mendidik itu bukan administratif, tapi hati kepada murid,” kata Zen.

 

Sumber: Republika Online

Picture of Staf Admin

Staf Admin

Anggota DPR RI Dapil Jawa Tengah IX (Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes)

Leave a Replay