
JAKARTA – Gagasan sekolah sehari penuh (full day school ) sebaiknya tidak dipahami sebagai penambahan jam pelajaran semata.
Inti dari model pembelajaran ini adalah pendidikan dan penguatan karakter siswa agar menjadi generasi terbaik bangsa. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengungkapkan, rencana sekolah full day sesungguhnya merupakan implementasi dari sistem pendidikan nasional (sisdiknas) sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20/ 2003.
Konsep ini juga penjabaran dari program Nawacita Presiden Joko Widodo. Mendikbud menjelaskan, gagasan sekolah full day tidak seperti yang dibayangkan sejumlah kalangan tentang penambahan jumlah pelajaran hingga membebani siswa dan memangkas waktu mereka bersama keluarga. Sekolah full day lebih pada penekanan upaya untuk memberikan kegiatan yang positif kepada siswa melalui kegiatan di lingkungan sekolah.
”Yang saya maksud (sekolah sepanjang hari) itu pembelajaran yang diperluas, kokurikuler, pembentukan karakter,” kata Muhadjir saat berdialog dengan jajaran redaksi MNC Media di Gedung SINDO, Jakarta, tadi malam. Menurut Mendikbud, kokurikuler adalah membuat kegiatan agar siswa nyaman berada di sekolah. Kegiatan ini bisa disertai dengan menyisipkan kearifan lokal masyarakat setempat. Seperti di Jawa warganya lekat dengan musik gamelan, maka berdasarkan kokurikuler siswa akan diberi kegiatan yang berkaitan dengan alat musik tersebut.
”Yang Sunda ya angklung, yang (daerah) lain ya lain,” tutur Muhadjir. Menurut mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, wacana kokurikuler muncul berdasarkan program Nawacita. Dalam program tersebut dijelaskan pentingnya pembangunan karakter dan pengetahuan siswa. ”Termasuk kita kembali mendefinisikan (konsep) Trisakti kebudayaan yang berkepribadian, ya harus kembali ke kearifan lokal,” katanya.
Muhadjir melanjutkan, dalam Nawacita juga disinggung mengenai penyiapan tenaga kerja dan sumber daya manusia (SDM) yang andal. Itu semua bisa diawali dengan pembentukan karakter, yang penekannya berasal dari pendidikan dasar (basic education ), yaitu sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). ”Bahkan di situ (Nawacita) ketika saya baca pembentukan karakter SD 70% , SMP 60%,” papar Muhadjir. Melihat fakta tersebut, Muhadjir memastikan rencana sekolah full day akan terus dilanjutkan.
Tentu dalam proses awal Kemendikbud akan menetapkan pilot project terlebih dulu, sebelum program benar-benar diterapkan di masyarakat luas. ”Ini sudah saya pertajam konsep-konsepnya untuk kita mulai detail mana yang bisa disisipkan,” jamin Muhadjir. Wakil Ketua Komisi X DPR Abdul Fikri Faqih menilai gagasan sistem belajar sekolah full day merupakan alternatif untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Sekolah sehari penuh menjadi jalan tengah ketika banyak guru merasa belum dapat menyelenggarakan pendidikan secara maksimal karena keterbatasan jam.
”Full day school juga menjadi alternatif ketika banyak di antara sekolah-sekolah berprestasi mayoritas menerapkan sistem boarding school, di mana guru memiliki waktu lebih lama untuk berin-teraksi serta memberikan pendidikan kepada anak didik,” kata politikus PKS ini.
Dian ramdhani/ kiswondari/ant
Sumber : Koran Sindo


